Cerita tentang teman saya ‘DENIAS’


By: Denias

Bercerita tentang kondisi perfilman Indonesia memang nggak ada habisnya. Karena menurut Ve pribadi,terkadang angin perfilman Indonesia selalu mengadoptasi terlalu berlebihan dari dunia luar atau western.

Tentunya ini ada baik dan buruknya,tapi tanpa aling-alnig melupakan akar budaya Indonesia sebagai culture yang mempunyai banyak keunikan tersendiri. Hal itu sangat disayangkan,apalagi sampai mengcopy semua kebudayaan barat lalu kemanakah larinya akar kebudayaan bangsa kita?

Tapi untuk film satu ini membuat Ve SALUT, dan bangga. Masih ada insan seni didunia entertainment yang mau mengangkat kisah-kisah kebudayaan tradisional. Contohnya film ini.

Film apa sih nih? Hayo atuh dibuka..kok dari perbincangan diatas nggak ada sedikitpun di kupas judulnya? Hehehehe,biar penasaran gituuu.:

Okeh, filnya itu DENIAS -Senandung diatas awan.

Tahu film ini sewaktu BW ke MP nya Ima, makasih yah. Tapi Ve lihatnya di youtube sebab sepertinya kalau mau nonton di Indo nggak akan keburu habis hasrat pengen lihatnya jadi buat penasaran. Dari hasil search di mbah google film Denias ini tayang tanggal 19 Oktober tahun silam. Insya Allah nanti akan beli vcd yang originalnya atau kalau perlu suruh nonton adik-adik Ve semua agar bisa mengambil pelajaran dari film ini.

Adegan pembukanya saja sudah sangat menarik. Setelah upacara adat berlangsung, muncul dialog ibu Denias menasehati anaknya,

“Denias, kau sudah besar, kau jangan nakal ya… kalau kau nakal, gunung disana bisa makan kau! Betul itu, itu sudah! Tapi kalau kau belajar yang rajin, pintar sekolah, gunung disana takut sama kau!”

Silahkan cari di youtube yah, tapi kalau untuk menonton keseluruhan meski meng-add anrra yang menupload film tersebut.

Pesona dan keindahan alam Papua juga sangat jelas di film ini. Ve sampai merinding sewaktu melihat air terjun,sawah dan gunung sampai ada suara ayam segala.
Bayangkan aja sejak disini nggak pernah dengar suara ayam berkokok waktu subuh hari. Nggak seperti waktu di Jakarta.

Sedikit Ve mengupas tentang film Denias ini dan juga akan memaparkan kesan Ve setelah menonton film ini.


Nama saya Denias. Mama saya suruh saya sekolah. Karena dia bilang gunung takut pada anak sekolah. Demikian tulis Denias, di atas buku yang diberikan Bu Sam, guru sebuah sekolah fasilitas. Tulisan itu menyiratkan impian dan semangat dari seorang anak untuk dapat bersekolah. Impian yang juga dimiliki oleh banyak anak di Indonesia saat ini.

Film Denias, Senandung di Atas Awan ini memang film yang mengusung tema tentang dunia pendidikan. Sebuah langkah yang terbilang berani, di tengah derasnya tema pop seperti horor dan cinta remaja. Mengingat produser film ini Alenia Pictures dan EC Entertainment adalah “pemain” baru di kancah perfilman nasional. Mereka menyebutnya obsesi dan idealisme untuk menampilkan sesuatu yang jarang tersentuh dan berbeda.

( http://www.suarapembaruan.com/News/2006/10/15/Hiburan/hib01.htm)

***

Lalu juga ada kata-kata sakti Maleo pada Denias :
” Belajar itu bisa kapan saja dan dimana saja Denias”.

Apalagi kata-kata Mama Denias yang selalu terngiang dibenaknya.
Hidup Denias memang berubah sejak kepergian Mamanya yang meninggal karena kebakaran di rumah mereka.

Anehnya,Ve juga sempat terkesima dengan adegan potong jari. Sepertinya itu adat kebudayaan di Papua sana. Yang jika ada anggota keluarga meninggal,maka anggota keluarga yang masih hidup akan dipotong jarinya oleh kepala suku ditempatnya. Diibaratkan seperti itulah sakitnya kehilangan anggota badan ketika salah satu orang yang kita sayangi meninggal dunia.

Selanjutnya Denias sangat mempunyai keinginan kuat untuk pergi ke kota disebelah gunung desanya,yang Maleo katakan ada sebuah sekolah yang berfasilitas sehingga Denias bisa mengejar cita-citanya agar bisa sekolah dan menjadi pintar.

Di tempat yang dituju, perjuangan Denias belum selesai. Sebagai anak suku biasa, Denias tidak mungkin boleh bersekolah di sekolah fasilitas itu. Perkenalannya dengan Enos membuat Denias bisa masuk ke dalam sekolah dan berupaya memetik pengetahuan dengan caranya sendiri.

Kegigihan dan semangat Denias mengetuk hati Ibu Sam, salah seorang pengajar di sana. Rintangan datang dari sana-sini hingga Denias pun hampir putus asa.

Apakah ibu Sam bisa membantu Denias bersekolah?

Apakah Denias bisa sekolah lagi?

silahkan tonton beli vcd originalnya aja,lebih bagus karena bisa buat penyemangat dikeluarga kita akan pentingnya pendidikan dan tidak menyerah dengan segala keterbatasan.

*****

Komentar Ve, film ini luar BIASA.

Jalan ceritanya sangat bagus, tidak terkesan menggurui padahal sarat pesan moral dan penyadaran atas kepedulian sosial yang mulai digerus zaman di bagian Papua kota. Contohnya bisa dikutip dari dialog Ibu Gembala yang diperankan Marcella dengan apik, dia memprotes aparat sekolah yang pilih-pilih murid,

“pertama kali saya menjejakkan kaki ke pulau ini, saya fikir, ketidak adilan hanya dilakukan oleh orang di luar pulau ini, ternyata ketidakadilan juga dilakukan oleh orang-orang dalam pulau ini sendiri.”

Seperti itu kenyataan yang ada pada umumnya yah
:((

Ada beberapa hal yang membuat Ve ingin mereview dalam film ini :

1. Film ini mengungkapkan secara gamblang betapa mewahnya PENDIDIKAN, padahal UU dinegara kita jelas sekali bahwa pendidikan itu sendiri adalah hak setiap warga negara.

2. Film ini jelas menggambarkan sebuah tekad seorang anak manusia yang ingin maju , pantang menyerah dan berusaha keras mencapai sebuah cita-cita yang agung yaitu ingin sekolah. Ingin menuntut ilmu. Walau harus menyebrangi sungai,mendaki gunung serta berjalan berhari-hari…tetapi tetap tidak menyurutkan langkah Denias untuk bisa sekolah.

3. Sampai saat ini,Ve pribadi masih beranggapan bahwa akar permasalahan struktural dan kultural bangsa sebenarnya bisa dipecahkan melalui pendidikan.
TIdak hanya dari struktural tetapi juga dari kultural seperti contoh tradisi memotong jari. Jika saja PENDIDIKAN sampai ke masyarakat secara menyeluruh mungkin tidak akan terjadi ritual-ritual kultural yang seperti ini ( menyakiti badan sendiri kalau Ve pikir ).

4. Film ini sukses membelalakkan alam fikir kita, bahwa dibelahan lain negeri Indonesia, berbagai kenyataan yang mungkin tidak kita sadari telah terjadi di negeri ini. Contohnya isu diskriminasi untuk mendapatkan akses terhadap pendidikan.

For me, this movie is a must see! Bisa dikatakan, ini adalah film ethnography yang dikemas dengan serius tapi terasa ringan dicerna, karena adegan-adegan humor yang segar terselip disana sini, mengalir alami.

Seperti contoh,bagaimana Denias terbelalak melihat reklame yang terpampang di tengah kota terus Denias bilang ada raksasa disana. Lalu Enos bilang ( teman Denias ) bilang : ” Bodoh kau,itu bukan raksasa tapi itu babi”. Tapi itu bukan babi pula,itu sapi ( iklan susu UHT) , Hahahaha..jadi si Enos juga sama-sama bodoh lah . Tapi mungkin dipedalaman Papua yang sangat pelosok tidak ada sapi sepertinya. Who’s know?

About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s